INFO SOSIALISASI

Beton Ferosemen untuk Jaringan irigasi tersier

Deskripsi

Menurut Laporan Audit Kinerja Irigasi Dirjen Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum tahun 2010, kerusakan yang terjadi pada saluran irigasi primer dan sekunder rata-rata mencapai 30%, sedangkan pada jaringan tersier mencapai 60%. Penyebab kerusakan antara lain karena longsoran tebing dan pengendapan sedimen.

Kondisi jaringan tersier akan semakin rusak karena kemampuan finansial petani sangat lemah untuk mendukung operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi tersier. Akibat kerusakan jaringan tersier adalah tidak meratanya debit distribusi air, penurunan efisiensi pelayanan air, dan fungsi saluran tersier.

Badan Litbang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pada tahun 2017 mengembangkan teknologi ferosemen sebagai konstruksi alternatif untuk pembangunan irigasi dalam rangka menyediakan suplai air untuk pertanian. Teknologi ferosemen ini mudah diterapkan, kuat, lentur, tahan lama, dan lebih ekonomis.

Ferosemen adalah suatu tipe dinding beton bertulang, tipis (3,00) cm, yang dibuat dari mortar semen hidrolis, dengan perbandingan campuran 1 semen : (2-3) pasir, diberi tulangan (≤ 6,0 mm) dengan lapisan kawat anyam (wiremesh) ukuran ≤ 1,0 mm, terus-menerus dan rapat.

Dibandingkan dengan teknologi konvensional pasangan batu kali/bata untuk saluran irigasi tersier, dinding ferosemen memiliki keunggulan sebagai berikut:

  1. Teknologi sederhana sehingga mudah diaplikasikan dan direplikasikan
  2. Biaya konstruksi lebih rendah dibandingkan bahan konvensional lainnya
  3. Mudah diadaptasikan ke dalam prinsip fisik, mekanik, maupun hidrolik
  4. Dinding ferosemen memiliki kuat, lentur, dan tahan lama dibandingkan dengan tekologi konvensional
  5. Dapat dibuat secara insitu, atau dicetak di tempat lain untuk kemudian dirangkai di lapangan
  6. Dari segi berat konstruksi, ferosemen mempunyai berat konstruksi yang lebih ringan, sehingga dapat dipakai untuk tanah dengan daya dukung rendah sehingga dapat diadaptasi di semua lokasi
  7. Mudah dioperasikan oleh petani