INFO SOSIALISASI

Industri Pengolahan Air Limbah (IPAL) Tahu

Deskripsi

Industri rumah tangga pengrajin tahu selain dapat meningkatkan ekonomi masyarakat juga menimbulkan permasalahan yaitu pencemaran limbah. Permasalahan  pencemaran limbah industri tahu ini semakin kompleks ketika lokasi industri rumah tangga tersebut berada di permukiman penduduk.

Tidak jarang limbah tahu tersebut langsung dibuang menuju saluran air dan menimbulkan permasalahan bau yang terjadi akibat air limbah tahu bercampur dengan limbah rumah tangga yang mengalir sepanjang sistem drainase. Hal ini menyebabkan daerah di hilirnya terkena dampak berupa genangan air limbah tahu di area rumah warga, dan berpotensi menimbulkan gesekan sosial.

Sehingga diperlukan teknologi pengolahan air limbah yang mampu mengurangi efek pencemaran lingkungan, ramah lingkungan, bersifat komunal, dan mampu dikelola oleh masyarakat.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut Balitbang Kementerian PUPR telah mengaplikasikan teknologi pengolahan limbah tahu dengan menggunakan sistem anaerob (tertutup). Seperti halnya teknologi Biotour, teknologi IPAL Tahu ini menggunakan sistem pengolahan primer, pengolahan sekunder, dan tersier. Perbedaannya adalah tidak menggunakan sistem disinfektan karena target akhir dari IPAL tahu ini adalah mengurangi kadar pencemaran limbah tahu sampai ambang batas yang diijinkan.

Teknologi ini digunakan untuk mengolah limbah cair tahu dengan sistem anaerob (tertutup), sehingga hasil akhir dari pengolahan limbah tersebut layak dibuang ke badan air. Selain itu pengolahan limbah cair tahu menghasilkan biogas yang dapat digunakan sebagai bahan bakar memasak dan lampu penerangan. Teknologi IPAL Tahu menggunakan beberapa komponen yaitu:

· Bak Ekualisasi: sebagai tempat pembuangan awal dan pengendapan

· Biodigester: menghasilkan energi alternatif,

· Anaerob Baffled Reactor (ABR): tempat pengolahan sekunder

· Biofilter

· Kolam sanita: untuk menurunkan zat pencemar (BOD, COD, dan TSS)

IPAL Tahu memiliki keunggulan sebagai berikut:

· Dapat dibangun dengan material lokal, kebutuhan lahan kecil, dan biaya investasi rendah

· Tidak memerlukan listrik, tetapi menghasilkan energi alternatif biogas dan pupuk cair

· Sebagian besar komponen ditanam di dalam tanah dapat meminimalkan pemakaian lahan.

· Menggunakan komponen biofilter anaerob yang tahan terhadap beban kejut hidrolis dan zat organis, umur pelayanan panjang, biaya investasi dan operasional moderat.

· Komponen biofilter yg dipakai sudah diproduksi massal, umur pelayanan panjang, biaya investasi rendah, biaya operasi tergantung harga satuan air dan pengurasan.

· Menggunakan kolam sanita yang menurunkan zat pencemar (BOD, COD, dan TSS) lebh rendah, dan meningkatkan kesan estetis IPAL karena menggunakan filter gravel, pasir, dan tanaman.